Jubir knpb Internasional Viktor Yeimo Dapat 2 Panel.

BERLIN, Kemugepkemugepo — Juru Bicara Internasional Komite Nasional Papua Barat atau KNPB Victor Yeimo menjadi salah satu panelis pada Konferensi Resolusi Konflik West Papua yang diselenggarakan di Berlin, Jerman, pada 14-15 Mei 2019.

Konferensi ini diinisiasi oleh International Coalition for Papua. Selain KNPB, turut diundang GKI Tanah Papua, Amnesty International, WestPapua Network, Human Rights Watch, LIPI, Dewan Gereja Pasifik, Dewan Gereja sedunia (WCC), Tapol, Jubi, GKIP Biro Keadilan dan Perdamaian, Indonesian Watch, ILWP dan perwakilan ULMWP di Jerman.

Victor Yeimo menjadi panelis di dua kesempatan. Dengan moderator Peter Prove dari WCC, Victor menggambarkan apa yang terjadi di West Papua sebagai Neo-Kolonialisme Indonesia.

Dia juga menggambarkan pembangunan basis-bssis militer di Tanah Papua oleh rezim Jokowi sebagai cara untuk mengamankan eksploitasi kekayaan alam Papua.

Victor kemudian menyampaikan Referendum sebagai solusi damai, demokratis dan final bagi penyelesaian konflik West Papua.

Iklan

Revolusi Harus Di Paksa

Kita Mendengar namun lupa
Kita Berkata tetapi terdiam
Kita Bertindak kemudian kita mengerti

Tidak berguna hanya mendengar lalu dilupakan
Tidak berarti hanya berkata lalu terdiam

Segala hal yang di dengar harus di katakan
Hanya dengan tindakan nyata kita mengerti.

Kesatria tidak memikul pedang untuk terlihat gagah
Orator tidak terlihat gagah tanpa masa aksi
Revolusi harus menggema diakar rumput

Revolusi harus di paksa jatuh dari singasana
Bukan hanya menggunyah di mulut belaka
Tidak hanya menatap meratapi kekinian

PAPUA MERDEKA
salam Kematian buat Aparat Hukum Kaimana yang Bungkam Ruang Demokrasi

Rakyat Kaimana Tetap pada Ideologi Papua Merdeka

Lawan kolonialis Kapitalis

Kolonialisme Indonesia di West Papua hari ini adalah hasil dari Imperialisme Amerika Serikat yang mengatur konspirasi ekonomi politik melalui Perjanjian New York, 15 Agustus 1962. Pendek kata, Indonesia harus tunduk pada AS demi politik kolonialismenya di West Papua, dan AS harus selalu dukung NKRI agar eksploitasi SDA di West Papua dapat dijaga dan dijamin Indonesia.

Bayangkan! Tanah air West Papua, yang berpenghuni, hidup sekitar 600.000 tahun ini, menjadi transaksi ekonomi politik para imperialis dan kolonialis. Mulut dan telinga pemilik teritori ini dipasung senjata. Tak satu pun dilibatkan dalam perjanjian yang menentukan nasib masa depan hidupnya. Pepera 1969 akhirnya menjadi bukti sandiwara dan kejahatan kemanusiaan terhadap bangsa Papua yang pada 1 Desember 1961 berikrar menjadi bangsa menuju negara sendiri.

Hingga tahun ke 55 hari ini setelah perjanjian tersebut, tanah air West Papua masih menjadi ladang pembantaian dan exploitasi dari kekuasan kolonial Indonesia dan imperialisme AS. Tentang Freeport, polanya sama: negosiasi AS dan RI tanpa pelibatan orang Papua. Dalam mind set para penjahat ini, orang Papua itu binatang yang harus dibasmikan demi pendudukan dan eksploitasi. Pola hegemoni pembangunan, yakni: kasih Otsus agar lupa harga diri dan perjuangan. Bak, seekor babi liar dibuat jinak untuk disembeli. Jiwa pemberontakan dicabut dengan uang dan jabatan.

Pola penaklukan oleh imperialis dan kolonial ini harus di lawan. Perlawanan pada dua musuh ini tidak hanya milik orang Papua, tetapi oleh rakyat sejagat raya yang masih terkungkung bius nasioalisme chauvisnis dan hegemoni imperialis. Membangun solidaritas dengan bekas negara-negara jajahan agar mendukung kemerdekaan Papua, mengakhiri kolonialisme, dan mengantisipasi serta menghancurkan neo-kolonialisme (post-kolonial). Itu tugas semua manusia, terutama Indonesia, Bolivia, Venezuela, Timor Leste, Kuba, dll.

Di West Papua, setiap orang Papua harus mengambil tanggung jawab membangun basis perlawanan. Jangan biarkan kolonial dan kapitalis menduduki dan menguasai tanah air kita. Jangan memberi wewenang kepada kolonial dan kapitalis mengatur nasib masa depanmu. Biarkan para penjahat itu buat perjanjian-perjanjian, dan kita rakyat Papua sendiri bikin perjanjian antara sesama. Kita berjanji berdiri dan bergerak bersama mengakhiri penderitaan ini. Berjanji pada tanah air dan anak cucu kita bahwa kelak mereka jangan lagi menderita dan dieksploitasi. Berjanji pada diri sendiri bahwa saya generasi perjuangan, dan bukan penikmat sesaat.

Salam satu jiwa bagi solidaritas rakyat Indonesia melalui FRI-WP yang ambil aksi di 11 kota di Indonesia hari ini, 15 Agustus 2017 mendukung hak penentuan nasib sendiri bagi West Papua.

Kita Harus Mengakhiri

Victor Yeimo,
JUBIR Internasional KNPB